PEKANBARU — Upaya memperkuat tata kelola lingkungan dan pengelolaan lanskap berkelanjutan di Provinsi Riau terus dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan sejumlah pemangku kepentingan.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui Siak Pelalawan Landscape Programme (SPLP) bersama Earthworm Foundation dengan memperkenalkan sistem pemantauan deforestasi berbasis teknologi satelit dan aplikasi seluler.
Program ini diarahkan untuk mendukung pengawasan terhadap kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi atau High Conservation Value (HCV/NKT) serta stok karbon tinggi atau High Carbon Stock (HCS/SKT), khususnya dalam konteks pengelolaan lanskap di Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan.
Kegiatan dibuka oleh Kabid Perencanaan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Riau Dr. Matnuril, ia mengatakan bahwa kegiatan tersebut terkait tata kelola lingkungan
“Bahwa kerja ini akan mendukung Green for Riau tentang tata kelola lingkungan, ” Ujarnya (28/9) saat membuka acara di Hotel Batiqa Pekanbaru
Dalam keterangan yang disampaikan penyelenggara, di Kabupaten Siak telah diterbitkan Peraturan Bupati Siak Nomor 42 Tahun 2025 tentang pemetaan indikatif dan pengelolaan areal bernilai konservasi tinggi serta areal bernilai stok karbon tinggi pada lanskap yurisdiksi Kabupaten Siak.
Sementara untuk Kabupaten Pelalawan, regulasi serupa disebut masih dalam tahap harmonisasi di Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Pelalawan.
SPLP dan Earthworm Foundation menyebut pendekatan kolaboratif diperlukan untuk menyelaraskan kepentingan konservasi lingkungan dengan aspek sosial dan ekonomi masyarakat dalam mewujudkan tata kelola sawit berkelanjutan.
Namun, dalam pelaksanaan pemantauan lanskap, masih terdapat sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan akses terhadap data, informasi yang tersebar pada berbagai pihak, serta adanya jeda waktu antara terdeteksinya potensi ancaman dengan pelaksanaan verifikasi dan tindak lanjut di lapangan.
Untuk menjawab persoalan tersebut, SPLP mengembangkan Deforestation Monitoring Platform dan aplikasi seluler Integrasi Data Management (IDAMAN) Siak-Pelalawan.
Sistem tersebut menggabungkan teknologi penginderaan jauh berbasis satelit dengan verifikasi lapangan melalui aplikasi bergerak. Melalui sistem itu, informasi atau sinyal awal mengenai dugaan perubahan tutupan hutan dapat diteruskan kepada pihak terkait untuk kemudian diverifikasi di lapangan.
Penyelenggara menyatakan bahwa mekanisme tersebut diharapkan dapat membantu proses ground-truthing atau pengecekan kondisi faktual di lapangan sehingga informasi hasil pemantauan dapat digunakan secara lebih terkoordinasi.
Diikuti 21 Peserta, dari Siak Berhalangan:
Untuk memperkenalkan sistem tersebut kepada para pemangku kepentingan, SPLP bersama Earthworm Foundation menggelar kegiatan “Sosialisasi dan Pelatihan Pengenalan Deforestation Monitoring Platform dan Mobile Apps IDAMAN Siak-Pelalawan.” Kegiatan berlangsung selama dua hari di Hotel Batiqa Pekanbaru. (28-29/09/2026)
Berdasarkan keterangan penyelenggara, pelatihan diikuti 21 peserta. Sebanyak 10 peserta berasal dari Pemerintah Kabupaten Pelalawan, yakni Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), serta Dinas Perkebunan dan Peternakan.
Selain itu, empat peserta berasal dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), masing-masing dari KPH Sorek, KPH TBS, KPH Minas Tahura dan KPH Mandau.
Dari Pemerintah Provinsi Riau terdapat empat peserta yang berasal dari Bappeda dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), sedangkan tiga peserta berasal dari SPLP.
Pemerintah Kabupaten Siak juga diundang sebanyak 10 orang, namun berdasarkan keterangan penyelenggara, seluruh peserta yang diundang dari Siak berhalangan hadir dalam kegiatan tersebut.
Dalam pelatihan, peserta diperkenalkan dengan fungsi dan fitur utama platform pemantauan deforestasi serta aplikasi IDAMAN Siak-Pelalawan.
Selain pengenalan teknologi, kegiatan tersebut juga ditujukan untuk memberikan pemahaman teknis mengenai penggunaan aplikasi kepada para pemangku kepentingan dan tim lapangan.
Penyelenggara juga menargetkan adanya kesepahaman mengenai tata kelola dan alur pemanfaatan data hasil pemantauan secara berkelanjutan.
Teknologi untuk Mendukung Pengawasan:
SPLP menyatakan pemanfaatan teknologi pemantauan berbasis satelit tidak dimaksudkan menggantikan proses pemeriksaan atau kewenangan instansi pemerintah. Data pemantauan dapat menjadi informasi awal yang selanjutnya perlu diverifikasi dengan kondisi faktual di lapangan dan ditindaklanjuti sesuai kewenangan masing-masing pihak.
Penguatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam penerapan sistem tersebut. Dengan adanya pelatihan, para peserta diharapkan memiliki pemahaman yang sama mengenai penggunaan platform, proses verifikasi, serta mekanisme koordinasi dalam merespons informasi hasil pemantauan.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan lanskap yang lebih terintegrasi di Kabupaten Siak dan Pelalawan, khususnya dalam mendukung perlindungan kawasan bernilai konservasi dan stok karbon tinggi serta tata kelola perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan.
Keberlanjutan sistem tersebut, termasuk pemanfaatan data, mekanisme verifikasi dan tindak lanjut atas informasi yang diperoleh, selanjutnya bergantung pada koordinasi dan kewenangan masing-masing instansi serta pemangku kepentingan terkait. (F)
